Oleh: bloggerlumajang | Agustus 9, 2008

Lumajang Dan Gunung Semeru : Riwayatmu Kini ?!?!

Berangkat dari sebuah ironi maka saya berketatapan hati untuk menulis tentang Lumajang, dengan sudut pandang dan kacamata berpikir yang terbatas namun sangat jelas menuju pada satu muara yakni bagaimana memperkenalkan Lumajang dan membangun sebuah kerangka untuk melihat lumajang lebih dekat dengan segenap kompleksitas potensi dan permasalahannya. Pada medio tahun 1994 ketika saya sedang berada di Kota Bandung saya menjadi tergelitik manakala beberapa kalangan terpelajar disana samasekali tidak mengetahui tentang Lumajang, Lumajang serasa asing ditelinga mereka yang akrab dan terbiasa mengakses informasi, bahkan dari kalangan Mahasiswa Pecinta Alam yang terbiasa mendaki ke Puncak Semeru mereka masih memiliki anggapan bahwa Puncak Semeru atau Mahameru tidak terletak di Lumajang melainkan di Kabupaten Malang.

Hampir sama dengan diatas adalah tumbuhnya pendekatan etnis dan kawasan tatkala mengurai tentang lumajang. Lumajang terkadang dinilai berada dalam lingkar Surabaya dengan dominasi etnis dan budaya Madura yang dominan. Beberapa sudut pandang diatas mengerucut pada sebuah kata akhir bahwa Lumajang perlu diperkenalkan kepada dunia luar secara kuantitatif maupun secara kualitatif.

Catatan yang Tersisa dari Lumajang Tempo Doeloe

Dalam perspektif kesejarahan Lumajang pernah memainkan peran yang penting dan strategis baik dalam era kerajaan kediri maupun era Majapahit.

Sejak zaman kerajaan kediri lumajang telah berdiri sebagai sebuah kadipaten yang subur dan makmur yang menjadi daerah penyangga di wilayah timur, sebuah catatan prasasti mula malurung menegaskan keberadaan Lamajang alias Lumajang.

Prasasti Mula Manurung ditemukan pertama kali pada tahun 1975 di Kediri. Prasasti ini berangka tahun 1977 Saka, mempunyai 12 lempengan tembaga . Pada lempengan VII halaman a baris 1 – 3 menyebutkan ” Sira Nararyya Sminingrat, pinralista juru Lamajang pinasangaken jagat palaku, ngkaneng nagara Lamajang ” yang artinya : Beliau Nararyya Sminingrat ( Wisnuwardhana ) ditetapkan menjadi juru di Lamajang diangkat menjadi pelindung dunia di Negara Lamajang tahun 1177 Saka, setelah diadakan penghitungan kalender kuno maka diperoleh tanggal 14 Dulkaidah 1165 atau tanggal 15 Desember 1255 M.

Kerajaan Majapahit yang tumbuh kemudian pada tahun 1400 Masehi dibawah kepempinan Raden Wijaya sejatinya merupakan buah perjuangan beberapa pemimpin tanah jawa seperti ronggolawe (adipati tuban), arya wiraraja (adipati sumenep) termasuk juga Pangeran Nambi. Mereka dipersatukan oleh kesamaan cita-cita untuk membangun satu kerajaan besar, berdaulat, makmur dan jaya membawa nama harum nusantara hingga ke mancanegara.

Setelah Majapahit berdiri di puncak keemasannya justru intrik-intrik politik di lingkaran kekuasaan begitu besar sehingga lahirlah kemudian pemberontakan Ronggolawe, pemberontakan Sora dan pemberontakan Nambi. Pemberontakan Patih Nambi tergolong pemberontakan terbesar dan dikenal pula sebagai Pemberontakan Lamajang. Patih Nambi yang merupakan putra adipati Lumajang dituding melakukan makar lantaran memilih berdiam di Lumajang pasca wafatnya sang ayah Nararyya Kirana. Untuk menghadapi superioritas pasukan majapahit Nambi membuat benteng pertahanan (biting) dan mengerahkan prajurit-prajurit lumajang yang terbaik untuk mempertahankan kedaulatan Lumajang. Pada saat itu Lumajang menjadi ajang pertempuran dan banjir darah hingga Nambi turut gugur dalam peristiwa itu.

Beberapa situs purbakala, prasasti bersejarah, dokumen kuno dan cagar budaya yang memiliki keterkaitan dengan sejarah perkembangan Lumajang seharusnya bisa menjadi titik awal untuk mempelajari dan menggali informasi mengenai Lumajang secara lebih utuh dan mendalam.

Lumajang Periode Sebelum Kemerdekaan

Bentang alam lumajang yang molek serta subur demikian menarik dan menggiurkan bagi pemerintah pendudukan belanda untuk menguasai dan mengekspolitasi sumber – sumber kekayaan alam utamanya tembakau dan Kopi. Untuk tujuan tersebut belanda mempersiapkan sistem pengairan terpadu dari hulu hingga hilir dengan merancang bendungan, dam dan kanal. Belanda juga membangun infrastruktur berupa rel kereta api, jembatan dan jalan raya untuk memudahkan pengangkutan dan distribusi kekayaan alam tersebut.

Belanda pada akhirnya berhasil merealisasikan cita-citanya untuk membangun serta menguasai sentra-sentra kopi di kawasan lereng semeru dan sentra – sentra tembakau di wilayah pesisir pantai Lumajang. Dan Kini Gudang serta Loji peninggalan belanda yang tersebar di beberapa tempat menjadi saksi sejarah ekplorasi dan eksploitasi kekayaan alam Lumajang di era sebelum kemerdekaan.

Atas fakta inilah kita sebenarnya perlu belajar dari jejak keberhasilan belanda dalam memetakan potensi unggulan lokal dan meraih keuntungan meskipun secara illegal.

Anugerah Allah SWT yang Luarbiasa

Masyarakat Kabupaten Lumajang selayaknya tiada henti bersyukur kepada Allah SWT atas anugerah terbesar berupa Gunung Semeru yang menjadi icon Lumajang. Gunung Berapi tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 dpl itu menyimpan energi dan potensi yang sungguh Luarbiasa. Material Vulkanik Gunung Semeru berupa pasir besi yang jumlahnya berjuta-juta kubik nyaris tiada pernah habis ditambang. Pasir Khas Lumajang ini diyakini merupakan pasir terbaik yang digunakan untuk material bangunan-bangunan perkotaan diantaranya gedung bertingkat dan jalan tol. Material Vulkanik Gunung Semeru berupa pasir besi dan batu kali tidak hanya menghidupi para penambang pasir dan pemecah batu melainkan juga merupakan pendapatan asli daerah yang seyogyanya bisa dinikmati oleh keseluruhan masyarakat Lumajang dalam wujud pembangunan yang berpihak bagi sebesar-besarnya kepentingan masyarakat.

Material Vulkanik dalam bentuk abu gunung semeru telah diyakini mampu menebalkan humus dan hara dalam tanah sehingga wajar jika kawasan lereng semeru merupakan daerah subur dan potensial untuk dikembangkan beberapa komoditas utamanya Kopi dan Pisang.

Lumajang dikenal sebagai Kota Pisang dan juga daerah penghasil kopi terbesar kedua di Jawa Timur. Pisang Agung merupakan pisang dengan bentuk serta cita rasa yang khas dan telah menjadi icon Lumajang hingga sekarang, belakangan ini petani pisang juga mengembangkan jenis pisang yang lain sebagai primadona baru yakni Pisang Mas Kirana yang sukses dipasarkan dengan harga bersaing hingga ke Ibu Kota.

Lumajang dan Gunung Semeru Riwayatmu kini…

Mungkin Lumajang perlu seorang budayawan dan seniman sekelas Gesang yang mampu menciptakan lagu yang menggambarkan tentang Gunung Semeru seperti halnya Lagu Bengawan Solo yang legendaris itu atau setidaknya musisi seperti Didi Kempot yang juga sukses memperkenalkan “Stasiun Balapan Solo”, alasannya sederhana saja karena Identitas Semeru sebagai bagian tak terpisahkan dari Lumajang perlu terus dibangun dan disosialisasikan.

Selain Pura Semeru (Pura Mandara Giri Semeru Agung) di Kecamatan Senduro, Stadion Semeru di Kota Lumajang dan Radio Suara Semeru, kita masih memerlukan semeru-semeru yang lain untuk benar-benar menjadikan Semeru sebagai salah satu icon kebanggaan masyarakat Lumajang. Tanpa bermaksud mengabaikan yang lainnya dalam bayangan saya di Lumajang ini nantinya perlu ada Gedung Semeru, Plaza Semeru, Bis Kota Semeru, Taman Semeru, Universitas Semeru dan lain sebagainya

Terlepas dari permasalahan diatas kini masyarakat Lumajang mengharapkan Bangkitnya Lumajang dari predikat kota kecil dan terpinggir menjadi Kota Mandiri yang mewarisi kebesaran para pendahulunya untuk terus Maju meretas jalan menuju Perubahan dan Kemakmuran.

Wallahua’lam (Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: