Oleh: bloggerlumajang | Oktober 24, 2008

Dokar, Sepur dan realitas transportasi masyarakat Lumajang Tempo Doeloe


Setiap kali melintasi ruas – ruas jalan di kampungku, ingatanku terpulang kembali kepada kenangan semasa kecil di awal tahun 80-an, saat itu jalanan masih belum beraspal, listrik belum masuk desa, sementara pesawat televisi masih menjadi barang mewah dan langka yang dinyalakan menggunakan accu yang di-charge setiap periode tertentu. Hiburan bagi anak-anak seusia kami saat itu ialah bermain berkelompok di halaman rumah (bal-balan, jumprit singit, sodoran, benteng-bentengan, jentikan, dll) sambil sesekali bersorak riang tatkala kereta berkuda (dokar) melintas dan serentak berhamburan mendekat ke plawangan (=pintu perlintasan kereta api) setiap kali sirinenya dibunyikan, palang – palang pintu diturunkan dan beberapa saat kemudian lokomotif kereta api melintas dengan membawa gerbong-gerbong penumpang dan barang. Pada bulan puasa sirine kereta api selalu dengan setia kami nanti, saat sirine berbunyi maka kamipun berteriak riang karena pertanda waktu berbuka puasa telah tiba. Demikianlah pada mulanya, dokar dan sepur menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan kami di masa lalu.

Dokar dan Sepur yang tergerus zaman dan modernisasi.

Beberapa tahun kemudian, jalanan desa diaspal dan menyusul selanjutnya listrik masuk desa, mesin – mesin pembangunan perlahan bergerak dan tanpa disadari simbol – simbol masa lalu seperti dokar dan sepur mulai tergeser dan tergantikan.


Dokar yang semula menjadi primadona angkutan pedesaan perlahan harus mampu bersaing dengan Pick-up yang datang belakangan. Saat itu kebiasaan ber-transportasi kami mulai berubah, masyarakat-pun dengan sendirinya lebih memilih kendaraan bermotor sebagai bagian dari perkembangan teknologi transportasi untuk menunjang mobilitas kerja dan usaha, penggunaan dokar kemudian menjadi terbatas pada jalur dan rute tertentu.

Kendati semakin jarang Dokar masih tetap bertahan dan melintas, setidaknya pemandangan itu masih tersisa hingga hari ini. Entahlah sampai kapan transportasi yang satu ini akan bertahan dari gerusan zaman dan modernisasi.


Lain halnya dengan sepur, jalur transportasi umum menggunakan sepur dioperasikan dari stasiun pasirian hingga stasiun klakah, saat itu sarana transportasi umum baik bus dan colt untuk rute lumajang – pasirian masih sangat jarang. Sepur masih menjadi tumpuan transportasi masyarakat pedesaan utamanya di daerah pinggiran, dalam benakku saat itu keberadaan sepur akan mampu bertahan lama tapi ternyata anggapan itu keliru karena perlahan – lahan colt dan bus terus tumbuh dan berkembang menjadi transportasi yang diminati, keduanya bisa setiap saat melintas tidak terbatas pada jam – jam tertentu sebagaimana lazimnya sepur.

Pada saatnya bagi kami yang masih kanak-kanak hiburan televisi seperti film si unyil, flash gordon dll berhasil menutup rasa kehilangan kami pada bunyi khas sirine, pada deru mesin lokomotif, pada palang pintu perlintasan kereta api dan pada cerita – cerita menarik para orang tua kami tentang kereta api dan sejarah panjang penjajahan belanda di tanah tercinta.

Mimpi hadirnya transportasi rakyat yang merakyat

Lumajang dengan bentang alamnya yang luarbiasa indah dan khasanah potensi sumber daya alamnya yang kaya dimasa lalu menjadi bagian dari target eksplorasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh penjajah, mereka mengejar mimpi bergelimang kekayaan alam tanah jajahan seraya berjibaku membangun sarana, prasana dan jalur distribusi dengan mengerahkan tenaga-tenaga bumi putera lewat kerja-kerja rodi yang melelahkan serta memakan banyak korban.

Mereka merancang sistem transportasi, mendatangkan alat-alat berat, tenaga-tenaga ahli hingga wujudlah kemudian rel-rel kereta api dengan rute-rute yang panjang, lokomotif dan gerbong-gerbong khusus yang semua dirancang untuk mengangkut kekayaan alam berupa hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, ternak dan tambang.

Di era kemerdekaan, industri per-sepuran (perkereta-apian) dinasionalisasi dan dioperasikan sebagai sarana transportasi rakyat untuk mengangkut hasil bumi, barang dan penumpang.

Berkat sepur petani bisa mengangkut hasil panennya ke kota dan memperdagangkannya secara langsung tanpa melalui tengkulak, berkat sepur peternak bisa mengangkut ternaknya ke kota untuk mendapatkan penawaran harga yang istimewa, berkat sepur pula pedagang bisa membawa dan memperdagangkan barang-barang dari kota yang dibutuhkan bagi masyarakat desa. Dengan sepur semua itu dimungkinkan lantaran tersedia gerbong-gerbong khusus yang berpihak pada kepentingan rakyat sehingga sepur menjadi identik sebagai transportasi rakyat.


Sementara peranan dokar sebagai transportasi masyarakat juga tak perlu diragukan, dokar mampu menembus medan berat yang tak mampu ditembus alat transportasi lainnya, bahkan dokar juga berfungsi sebagai transportasi penunjang yang menghubungkan titik – titik strategis dari desa menuju kota, pasar dan stasiun.

Bagaimana dengan realitas saat ini ?

Sepur kini hanya tinggal cerita beserta jejak – jejak kebesarannya seperti rel-rel, stasiun dan sebagian gerbong tak bertuan yang wujudnya kini tak ubahnya onggokan barang rongsokan. Sementara dokar penggunaannya sudah sangat terbatas.

Kini telah tersedia Bus dan angkutan pedesaan sebagai alat transportasi generasi baru yang diharapkan bisa menggantikan sepur dan dokar. Sayangnya fungsi bus dan angkutan pedesaan lebih condong pada sarana pengangkutan penumpang bukan barang. Sangatlah jarang kita menyaksikan bus atau angkutan pedesaan yang didalamnya mengangkut hasil bumi apalagi hewan ternak, kalaupun ada pastilah menuai keluhan dari masyarakat pengguna lainnya yang merasa terganggu. Jadilah kini masyarakat utamanya petani, pedagang ataupun peternak harus rela merogoh koceknya lebih dalam untuk menyewa angkutan khusus seperti pick up dan truck.

Berawal dari latar belakang tersebut jadilah kini masyarakat kembali menebar mimpi bilakah akan hadir transportasi rakyat yang benar-benar berpihak pada rakyat.

…Wallahu A’lam (Ditulis Oleh Badrut Tamam Gaffas)


Responses

  1. Wah..ternyata masih ada yang mengharapkan KA hadir di Kota Lumajang. Keluarga dari ibuku berasal dari Lumajang. Sejak kecil aku sering ke rumah kakek di Lumajang dan sejak kecil pula aku suka dengan KA. Menurutku sistem kereta api di Lumajang paling kompleks dibandingkan kota serumpunnya (Probolinggo, Situbondo, Jember, Bondowoso, Banyuwangi). Di dekat pusat kota saja bercabang ke arah utara menuju Surabaya lewat pusat kota dan Klakah, ke arah barat menuju Pasirian (kaki G. Semeru), dan ke arah timur menuju Jember lewat Kencong (jalur selatan). Di Klakah pun bercabang lagi ke arah barat menuju Surabaya, ke arah timur menuju Jember lewat Jatiroto (jalur utara), ke arah selatan menuju pusat kota Lumajang. Wah dari sini aku sudah tau kalau SDA di Lumajang sangat besar. Sayang sekali semuanya menjadi jalur mati. Stasiunnya aja kalau tidak salah sudah menjadi gudang. Mungkin itu juga salah satu penyebab Kota Lumajang agak susah untuk berkembang.Walaupun aku tinggal di Malang, aku juga berharap kota tanah leluhurku ini berkembang he33x.. Salah satu caranya ya memudahkan akses ke Lumajang. Soalnya transport dari Malang ke Lumajang agak susah he33x.. lewat utara (Probolinggo) harus berganti moda lebih dari 4x, kalau lewat selatan (piket 0) terlalu rawan (begal dan jalur berbahaya). Menghidupkan kembali jalur KA di kota pisang ini mungkin salah satu cara pemudahan akses dan berharap kota ini bisa cepat berkembang. Amin. Tapi kapan ya?? He33x..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: