Oleh: bloggerlumajang | Januari 5, 2009

Sayudi, Dari Kuli Pemecah Batu Menjadi Juragan Kripik

Sukses tidak selalu harus merantau dan menyeberangi lautan. Sukses tidak mesti menjadi TKI/TKW yang banyak meninggalkan cerita sedih dan memilukan. Sukses bisa datang dari kampung halamannya sendiri bagi mereka yang tekun dan senantiasa mengembangkan kreativitasnya. Sukses hadir dengan kerja keras dan jeli melihat setiap potensi yang dimiliki desa kelahirannya. Sayudi adalah contohnya.

Beberapa tahun silam nama Sayudi mungkin segelintir orang yang kenal. Lahir sebagai petani kecil dan menempati rumah berbilik kecil di desa terpencil pula, ia bukan laki-laki yang menarik. Apalagi ia bukan orang sekolahan, praktis semuanya menghimpit jalan hidupnya untuk maju dan berkembang. Sayudi juga tidak punya bekal yang memadai untuk meningkatkan taraf ekonominya, akibatnya semua pekerjaan tidak ditolak asal ia merasa bisa. Tentu saja semua itu sebatas sebagai tenaga kasar dengan upah rendah dan jaminan kerja yang nyaris tak ada.

Sayudi dalam lakon ini adalah Sayudi yang beristri dan beranak dua, laki-laki dan perempuan. Mereka berempat merintis sejarah hidupnya dengan tertatih-tatih diakibatkan oleh keterbatasan yang mereka miliki. Tetapi bersyukurlah Sayudi sekeluarga tidak menganggap kemiskinan sebagai kutukan, justru kemiskinan membuatnya merasa tertantang. Tertantang untuk membuktikan bahwa dengan kerja keras dan tak kenal menyerah, hidupnya akan berubah. Bersyukur pula mereka memiliki modal besar yaitu keluarga yang harmonis. Prinsipnya adalah hidup boleh miskin asal keluarga tetap harmonis.

Tidak banyak manusia yang setegar Sayudi di jagat raya ini. Beruntunglah pembaca bisa mengenalnya meski hanya melalui cerita ini. Ia mewakili masyarakat yang lugu dan polos dalam sikap dan perilakunya, khas karakter manusia pedesaan yang sebagian besar ‘nrima ing pandum’. Tetapi Sayudi tidak demikian, Sayudi tidak mau pasrah bongkokan pada takdirnya, Sayudi bekerja keras untuk mengubah nasibnya dengan bekerja keras siang malam, kehujanan dan kepanasan.

Sayudi tumbuh di lingkungan yang subur sebenarnya, lereng Semeru yang menghijau dengan tanaman pisang sebagai komoditas unggulannya. Ia juga akrab dengan karakter Gunung Semeru yang senantiasa memuntahkan lahar dan memporak-porandakan sawah dan lahan pertanian. Tetapi Sayudi memandangnya sebagai berkah, sebab dari muntahan lahar itulah ia masih bisa hidup meski hanya menjadi pemecah batu di sungai. Bertahun-tahun ia menekuni pekerjaan kasar itu, bergelimang dengan bahaya yang setiap saat dapat melanda tiba-tiba.

Kulitnya yang hitam makin menghitam, tangannya menjadi kapalan oleh palu dan godam. Punggungnya, seperti kebanyakan lelaki desa makin membungkuk, bukti kerja kerasnya puluhan tahun sejak mudanya. Itulah Sayudi, lelaki Pasrujambe yang mengubah sejarah hidupnya dari pemecah batu menjadi pengrajin kripik pisang dan kripik jahe. Dari seorang buruh kasar yang menunggu upah dari majikan menjadi juragan yang memiliki banyak anak buah.

Semuanya tidak datang dengan kebetulan. Cerita sukses tidak pernah berawal dari kebetulan, tetapi menghampiri mereka yang mau bekerja keras dan membuka diri untuk selalu menimba informasi. Sayudi paham betul dengan kekurangan dirinya, tetapi ia tidak menjadi minder karenanya. Sayudi terus berontak dengan nasibnya dengan menjajal profesi demi profesi. Pernah menjadi pedagang bawang merah yang dikulak dari Tengger, pernah pula melakoni pekerjaan sebagai pencari Bung( bambu muda) yang dijual dan dikonsumsi masyarakat sebagai sayur yang sedap rasanya. Menjadi buruh tani sudah bagian dari kesehariannya.

Memang jangan membayangkan kisah suksesnya seperti Purdi E Chandra yang sukses mengelola waralaba edukasinya –Primagama. Juga jangan bayangkan seperti Bob Sadino yang berhasil dengan Kemchiks-nya. Atau Tung Desem Waringin. Keberhasilan Sayudi karena ia adalah sosok yang amat bersahaja dan datang dari desa yang tergolong ndesit khususnya di Kabupaten Lumajang. Sayudi yang ini adalah Sayudi yang berubah karena ia punya tekad kuat untuk berubah.

Semuanya berawal ketika ia merasa tertarik dengan kiprah YPKGM yang memiliki desa binaan di lingkungannya. Dari interaksi dan komunikasi yang berulang-ulang dengan sejumlah pengurus LSM yang bermarkas di Tempeh itu ia merasa mendapatkan tambahan ilmu yang cukup berguna. Sejak itu ia hampir tidak melewatkan sedikit pun pelatihan-pelatihan yang diadakannya, karena manfaatnya dirasakan cukup besar bagi keluarganya. Di dalam pelatihan tersebut ia mendapatkan dasar-dasar kewirausahaan, salah satunya adalah pelatihan pembuatan kripik pisang dan kripik jahe.

Tanpa membuang waktu, ia dan istrinya mulai coba-coba. Pikirnya, kenapa tidak? Toh ia tidak akan rugi dengan mencoba. Mencoba adalah satu langkah untuk mendekati kesuksesan. Apalagi bahan baku untuk keperluan itu tersedia melimpah di desanya.Dengan sedikit modal yang ia miliki ia merintis usahanya, tertatih-tatih dan seringkali ‘error’. Namun ia pantang menyerah, jatuh bangun ia berusaha membangun bisnisnya. Ia hilangkan rasa pesimis itu dari benaknya, ia terus bertekad untuk mengubah nasibnya.

Alhamdulillah, ketegarannya membuahkan hasil. Produksi kripiknya mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat. Mulailah ia melangkah lebih maju lagi dengan memberi label pada produksinya. Dengan bimbingan teman-teman YPKGM ia menyablon sendiri, dan tampillah ia sebagai perajin kripik pisang dan kripik jahe dengan label ‘Watu Klosot’.

Label itulah yang membuatnya cepat terkenal. Jika awalnya produksinya ia titipkan di toko-toko, selanjutnya ia malah kebanjiran pesanan. Pemesanan bisa melalui telepon dan tidak sedikit yang datang langsung. Konsumennya tidak sebatas dari lingkungan sekitarnya, bahkan sampai jauh ke luar kota. Sayudi sedikit demi sedikit telah menjadi ‘orang’. Ia kini tidak lagi bingung bagaimana mencari uang untuk membelikan baju anak dan istrinya menjelang lebaran tiba.

“Dulu walau harganya masih murah, satu setel hanya 50 ribu rupiah saja saya tidak mampu. Sekarang, walau harganya jauh lebih mahal sampai 100 ribu misalnya, Insya Allah saya mampu, “ ujarnya penuh rasa syukur.

Menjelang lebaran adalah masa-masa panen bagi Sayudi. Pada saat itu pesanan datang bertubi-tubi. Tetapi karena ia sudah siap dengan tenaga kerja dan bahan baku, semua itu bisa diantisipasi dengan baik. Bagusnya, ia tidak pernah melupakan tetangganya, karena ia juga punya komitmen bagus untuk memberdayakan masyarakat sekitarnya. Ibu-ibu yang tidak punya pekerjaan diajari dan dijadikan pekerjanya yang upahnya bisa untuk menambal kebutuhan dapur.

Sayudi sebenarnya memiliki obsesi terpendam yang belum bisa terlaksana. Ia bercita-cita membesarkan usahanya sehingga mampu memberikan pekerjaan lebih banyak lagi kepada desanya. Tetapi karena semua itu membutuhkan modal besar, Sayudi tidak ingin terburu nafsu. Dengan kondisinya yang ada sekarang, Sayudi sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya secara layak dan mampu menyekolahkan anak-anaknya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: