Oleh: bloggerlumajang | Januari 21, 2009

Muhammadiyah: Sang Surya Yang Sedang Redup (Otokritik untuk perjalanan 99 Tahun Muhammadiyah di Indonesia)

“Hendaklah ada di antara kamu sekelompok orang yang mengajak pada kebaikan dan memerintahkan untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Mereka inilah yang sesungguhnya beruntung”
QS. Ali Imran (3):104

Dari sejak lahirnya Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 99 Tahun yang lalu sudah dikenal pada masanya sebagai sebuah organisasi yang melahirkan beberapa aksi pembaharuan yang belum banyak disaksikan atau dianggap “aneh” oleh banyak kalangan kaum muslimin Indonesia waktu itu.

Gerakan pembaharuan itu di dalam kalangan Muhammadiyah dikenal dengan gerakan tajdid. Pembaharuan tersebut meliputi yang bersifat meneguhkan kembali nilai-nilai orisinil ke-Islaman dan membersihkannya dari unsur-unsur budaya yang cenderung pada kesyirikan dengan slogan pemberatasan TBC (takhyul, bid’ah, dan churafat) yang kemudian menjadikan organisasi gerakan ini dikucilkan dari pergaulan masyarakat muslim kebanyakan ataupun yang bersifat mengenalkan suatu sistem-sistem modern yang diadopsi dari negara-negara barat yang dikemudian menjadikannya organisasi yang banyak dikecam mengikuti langkah-langkah orang yang tidak seiman sehingga masuk dalam kalangan mereka yang kafir (man tasyabbaha bi qaumin fa huwa minhum).

Namun beberapa kendala sosial itu semua tidak pernah menyurutkan organisasi ini sehingga harus membubarkan diri. Missi pembaharuan yang bersifat aksi secara langsung dan kerja nyata tetap secara konsisten dijalankan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan modern yang bersifat klasikal dan bergaya modern (seperti menggunakan kelas, memakai jas, dasi, celana di mana sebelumnya lembaga pendidikan Islam umumnya sarungan), mendirikan lembaga bantuan-bantuan sosial dan kesehatan dengan mendirikan panti asuhan. Pada kenyataan, tanpa harus disebutkan terpengaruh, beberapa organisasi Islam yang concern dengan pembaharuan dan peningkatan taraf hidup umat Islam Indonesia yang memiliki kemiripan dengan missi dakwah Muhammadiyah pun berdiri dan menjamur. Dari sinilah kemudian secara jelas ahli-ahli sejarah islam dan pengamat sosial keislaman tidak dapat memisahkan bahasan pembaharuan Islam Indonesia dengan Muhmamadiyah. Dan dari person to person setiap pemimpin bangsa ini tidak pernah lepas dari ikatan emosionalnya kepada Muhammadiyah tanpa mereka harus menjadi anggota Muhammadayah.

Peran Muhamadiyah dalam mendidik bangsa dan membentuk nasionalisme baru bagi bangsa Indonsia sangatlah besar dan tidak diragukan lagi, baik dilakukan secara organisasi maupun individu-individu warga Muhammadiyah. Sumbangannya kepada bangsa ini pada awal-awal sejarah lahirnya bangsa ini banyak dimotori oleh tokoh-tokoh di lingkungan Muhammadiyah dari mulai perjuangan fisik, negoisasi, dan perberdayaan masyarakat. Jasa dan amal baik Ini semua yang telah disebutkan cukuplah dikenang secara historis saja untuk mengetahui di mana posisi dan peran Muhammadiyah, dan jangan sampai kebalikannya menjadi warga Muhammadiyah yang historisis yang terlalu larut dan hanya asyik masyuk dengan mengenang kebesaran masa lalu.
Perjalanan sejarah tidak berhenti pada awal di bentuknya bangsa ini saja, sejarah akan berkesinambungan dan berlanjut yang kemudian akan menampilkan tokoh dan aktor sejarah yang merepresentasikan suatu masa atau periode. Perjalanan sejarah saat ini, secara objektif tidaklah lagi meletakkan Muhammadiyah sebagai arus utama pembaharuan, walaupun masih masih dalam daftar penyumbang terbesar adanya pembaharuan. Bahkan arus utama gerakan Islam saat ini masih dalam suasana kegamangan apakah harus melanjutkan ide-ide pembaharuan dengan metode mengadopsi seluruh arus pemikiran barat tentang demokrasi dan hak asasi manusia yang dipandang oleh sebagian lainnya akan cenderung mengarah pada pemikiran sekularistik dan kebebasan. Atau mengembalikan dan mengarah ide pembaharuan itu kepada ide-ide substansial yang terbaca secara kaku dari sumber ajaran Islam Al-Qur’an dan Hadis yang tidak interfretable yang cenderung bersifat puritan dan fundamentalis. Dua kelompok pemikiran ini senantiasa berebut simpati bahkan sampai harus beradu fisik. Sebut misalnya JIL, Kelompok Islam untuk kebebasan beragama, HTI, Ikhwanul Muslimin, Salafy, FPI dan lain-lain.
Mau tidak mau suka atau tidak suka Muhammadiyah pun terkena imbas dari suasana yang kurang menguntungkan itu. Muhammadiyah yang dikenal sebagai organisasi pembaharu Islam yang pada awal-awal berdirinya lebih berorientasi pada pemberdayaan masyarakat saat ini cenderung di tinggalkan masyarakatnya itu sendiri. Dengan kata lain, Muhammadiyah tidak lagi menjadi alternatif. Identitas secara simbolistis berupa, spanduk, pamplet, papan-papan nama boleh jadi membantah tesa itu, tetapi secara eksistensi individualistis tesa ini menguat karena semakin banyak orang yang malu-malu mengakui dirinya adalah warga Muhammadiyah, bersimpati kepada Muhammadiyah atau termasuk di dalam bagian Muhammadiyah. Ada dua realitas terjadinya itu, pertama karena tugas pemberdayaan masyarakat, baik dalam bidang agama, pendidikan, dan ekonomi nampak telah dapat diambil alih secara baik oleh organisasi-organisasi lainnya, bahkan organisasi yang sesatpun dapat memiliki basis masyarakat yang besar. Dan ini adalah fenomena yang perkembangannya sangat pesat boleh jadi karena faktor ekonomi ataupun karena faktor pengetahuan. Karena itu organisasi besar ini, secara skeptis dianggap tidak mampu lagi menjadi solusi bagi keseluruhan problem masyarakat yang berada pada tingkat grassroot. Kedua, kalau dia tidak dapat memberi keuntungan bagi kebanyakan masyarakat maka bagi warga Muhammadiyah tidak akan berfaedah jika symbol Muhammadiyah harus dikedepankan secara individu yang secara politis-sosiologis unfortunate. Tidak mempunyai nilai jual.

Sesungguhnya untuk merealisasikan gerakan genuine Muhammadiyah berupa gerakan tajdid adalah persoalan yang mudah , karena merk dan mesin organisasi ini dikenal dan berjalan secara baik. Pertama, reputasinya sebagai gerakan Islam modern yang dikenal luas secara nasional ataupun internasional. Hal ini berdampak pada berbagai kemudahan dan dukungan yang didapat oleh Muhammadiyah dalam menyelenggarakan kegiatan pada tingkat lokal ataupun nasional. Kedua, jaringan organisasi yang sudah tersebar di seluruh penjuru Tanah Air dan beberapa negara ASEAN membuat Muhammadiyah lebih mudah dalam mengembangkan aktivitas pada akar rumput yang membutuhkan koordinasi berjenjang dan melibatkan partisipasi masyarakat di berbagai daerah. Ketiga, perkembangan amal usaha yang sangat besar, secara kuantitatif juga menjadi aset sumber daya yang sangat berharga bagi persyarikatan untuk terus dapat bertahan di tengah-tengah badai krisis yang tealah melanda bangsa ini. Keempat, banyaknya kader-kader organisasi yang memilki jabatan-jabatan strategis di dalam kehidupan nasional dan mereka kesemuanya menempatkan Muhammadiyah sebagai modal sosial dan modal moral bagi bangsa dan semua partai politik terutama partai yang berbasis komunitas Islam.
Namun itu semua tidak bisa berjalan dengan baik, karena di dalam internal Muhammadiyah tidak didapat filterisasi kader yang begitu ketat, sehingga memungkin bagi siapa saja masuk dan mengatur Muhammadiyah tanpa dia mengetahui secara baik dan menyeluruh tentang arah, prinsip-prinsip dan tujuan hidup ber-Muhammadiyah. Bandingkan dengan proses kaderisasi-kaderisasi ormas dan orpol lain yang meskipun baru saja berdiri telah dapat memikat masyarakat untuk masuk ke dalam organisasinya . Dalam kondisi seperti ini Muhammadiyah yang besar itu dalam batas tertentu seolah menjadi pasar tempat lalu lalangnya banyak kepentingan praktis hingga pragmatis. Orang masuk ke dalam Muhammadiyah bukan lagi karena misi atau idealismenya, tetapi karena amal usahanya atau karena kepentingan mobilitas politik tertentu. Fenomena tuntutan pasar tersebut hingga batas tertentu wajar adanya, tetapi menjadi suatu kerugian karena Muhammadiyah tidak dapat memobilisasi potensinya secara optimal dan total untuk kepentingan misi dan idealisme gerakan. Orang-orang yang berada di dalamnya menjadi demikian longgar.
Arah dari pembaharuan dan tajdîd Muhammadiyah sejak awal sebenarnya selalu terfokus pada persoalan historisitas kemanusiaan yang sekaligus juga menyentuh persoalan kebangsaan dan keumatan. Masalah pengentasan kemiskinan melalui jalur pendidikan dan pelayanan kesehatan merupakan persoalan keumatan yang kongkrit dan otentik. Sikap dan aksi nyata seperti itulah yang dilakukan oleh pendiri Muhammadiyah pada awal berdirinya dan harus terus berlangsung hingga kini. Karena etos amal kemanusiaan dan keagamaan ini perlu mendapat ruang dan respons yang lebih luas dari warga Muhammadiyah dan lainnya. Hal inilah yang sesungguhnya yang menjadi penekanan KH Ahmad Dahlan, yaitu setiap warga harus membangun di dalam dirinya etos kehidupan dan etos sosial sehingga akan melahirkan gerakan sosial . Karena itu bagi KH Ahmad Dahlan dalam usahanya mendorong lahirnya gerakan itu nilai-nilai yang tersusun di dalam kitab suci (sacred book) harus mempunyai fungsi pragmatis sebagai pemecahan problem sosial, seperti pendidikan yang tidak bias gender, feodalisasi keagamaan dan lain sebagainya. Kasus penafsiran surat al-Mâ’ûn sebagai dasar kelahiran lembaga panti asuhan mencerminkan ide dasar metodologi pragmatis dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an.

Masyarakat kebanyakan di dalam prinsip Muhammadiyah adalah objek tajdid. Tajdid di dalam prinsip Muhammadiyah adalah prinsip gerak, bukan melulu pemikiran. Pemikiran diperlukan untuk membangun asas dan paradigmatik, tetapi itu tidak akan pernah merubah tanpa aksi dan karya yang terukur dan terencana yang di dalamnya tumbuhnya idealitas. Prinsip hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup dari Muhammadiyah nampaknya tidak akan pernah menjadi relevan jika tidak dibarengi dengan idealitas ataupun ketika Muhammadiyah hanya senantiasa dijadikan arus lalu lalang bagi banyak kepentingan. Mobilitas kerja akan menjadi semu, karena tidak didasarkan pada semangat membangun Muhammadiyah, tetapi lebih didasarkan pada semangat memperoleh sesuatu tujuan. Wallahu ‘alam bi al-shawab wa fastafiqul khairat

Dr. Nasruddin Yusuf (Ket. PW Majlis Tarjih Muhammadiyah Prov.SULUT)
Disampaikan dalam acara Milad Muhammadiyah ke-99 di Hotel Sahid Kawanua Manado tanggal 12 Desember 2008

Sumber : Nasrudin Yusuf on WordPress


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: