Oleh: bloggerlumajang | Februari 5, 2009

Pria Plontos Berkalung Sumpritan

https://i2.wp.com/nottinghamrugbyshop.co.uk/catalog/images/whistle.jpg

Fajar berpendar menyingkap kelambu malam, berganti pagi yang datang dengan menebar energi, sebuah pergiliran yang senantiasa dipenuhi keajaiban.

Rutinitas pagi yang menyenangkan adalah saat mengantarkan anak-anak dan keponakan bersekolah, berkendara motor bersuara helikopter kami melintasi tiga arah yang berbeda. Ke Selatan menuju YASPI Al Firdaus berbalik ke utara ke SD Tempeh Tengah 03 dan seterusnya ke utara menuju MI Tempeh Lor. Ada juga yang menyarankan “abonemen becak saja seperti kebanyakan anak – anak di perumahan”, bener juga sih tapi melepaskan sebuah kebiasaan ternyata juga tidak ringan, ada sesuatu yang “serasa” hilang. Ya Biarlah tak mengapa meski disebut “tuan tanah” atau dalam sinema india disebut tuan thakur, sebuah julukan plesetan bagi orang-orang yang menghabiskan waktu untuk mondar-mandir seolah nyaris tak pernah berhenti mengukur jalanan.

Diantara jalanan yang kami lewati Tugu pancasila masih menjadi titik utama kemacetan di pagi hari, wajar jika selalu ada seorang hingga dua orang polisi yang disiagakan bertugas disana

Yang menarik pada bulan-bulan belakangan ini di pertigaan tugu pancasila selalu ada bang ali yang hampir tak pernah absen, berdiri di tengah jalan mengatur lalu lalang kendaraan.

“Hop-hop-hop”, mandek dhisik dulur….nek tibo loro…soro dulur

Setelah menoleh kanan kiri sebentar Bang ali kemudian memberikan aba-aba “Ayooo….Ayooo….Monggo dulur….” Diiringi hentakan sarung ditangannya atau terkadang menggunakan kibasan ranting pohon.

Disaat jam-jam padat kendaraan tentu saja selain menarik perhatian pengguna jalan keberadaan bang ali sangat membantu, polisi yang bertugas praktis lebih banyak berdiri manis sambil sesekali memainkan HT. Beberapa bulan berlalu hingga tanpa disadari bang ali telah menjadi sebuah icon yang kini identik dengan tugu pancasila di kala pagi.

Dengan gaya yang khas bertelanjang kaki, bertelanjang dada dan menggenggam seruas ranting pohon tak bisa dihindari jika sebagian orang justru menilai miring sosok bang ali.

“Entah, Mengapa citra negatif masih saja dilekatkan pada diri bang ali ?!?!”, atas tindakan positif yang nyata-nyata diperbuatnya.

Dulunya Bang ali adalah penarik dokar handal, “Seorang yang saya kenal tidak pernah ragu menganggap semua orang “dulur”, Kebiasaannya adalah menyapa siapa saja yang dikenalnya “Assalamu’alaikum dulur…sik dulur nyambut nggawe sik…dungakno selamet dulur…” dengan nada suara dan gayanya yang khas.

Kadang ditengah asyik bermain bersama teman-teman kami sesekali melihat jalanan menunggu dokar bang ali melintas sekedar untuk mendengar sapaan khasnya yang mungkin lebih berkarakter dibanding “apaan tuh…nya bang jaja miharja” atau lebih unik dan orisinil dibandingkan salam “uhuy-nya si komeng”. Jika kebetulan dokar tengah kosong kami bisa ikut naik gratis sampai di tengah pasar.

Suatu saat saya mendengar berita bang ali hilang terbawa ombak besar pantai selatan, beberapa hari lamanya hingga ditemukan terhempas selamat di bibir pantai, ternyata saat berada dalam gulungan-gulungan ombak bang ali mencoba berteriak sekeras-kerasnya namun seolah membentur dinding tebal kedap suara, namun ketika dia melafazkan adzan tiba-tiba suaranya seolah tembus dan tiba-tiba gulungan-gulungan ombak kian besar menghentakkannya dengan keras hingga terdampar di pinggir pantai.

Sejak itulah bang ali jadi berbeda, namun bagi saya tidak ada yang berbeda darinya kecuali gaya dan tingkah lakunya yang nyentrik…

Demikianlah, Semula anak-anak memahami bang ali sebatas seorang Pria Plontos Berperilaku agak aneh, bertelanjang dada dan berkalung sumpritan, tapi melihat keberadaan polisi yang lebih banyak “berdiri mematung” dan kadangkala absen tidak bertugas maka perlahan anak-anak bisa dipahamkan betapa bang ali yang mengambil alih tugas polisi sesungguhnya adalah juga polisi “dalam tanda kutip”

lihatlah Bang Ali yang tidak seharipun absen”, ditengah panas terik atau dibawah guyuran hujan sekalipun.

meski bertelanjang dada dan tak beralas kaki bang ali tetap aktif bertugas” cobalah bandingkan dengan polisi yang berseragam yang kini makin sering absen terlebih saat musim hujan.

“Mungkin saja baju seragamnya belum kering atau belum rapi disetrika, “Mungkin juga topi atau sepatu dinasnya masih basah”

Bang ali beda dengan mereka, dalam segala situasi bang ali seolah tak terganti.

Beberapa minggu belakangan, keponakan yang di YASPI Al Firdaus usai menerima raport pindah sekolah ke MI Tempeh Lor, sementara keponakan yang agak besar mulai membiasakan diri bersepeda ke sekolah. Jadilah predikat tuan thakur perlahan meluntur, sekarang kami hanya berkendara menuju ke satu arah.

Meski tak lagi melintasi tugu pancasila dan bertemu bang ali namun bayangan pria plontos berkalung sumpritan itu kerap datang terlebih disaat arus kendaraan memadat. Bang ali seolah senantiasa hadir memberi sebuah energi inspirasi, betapa pentingnya untuk berjuang agar menjadi “ada” dan “bermanfaat” bagi sesama. (by gaffas/feb’09)




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: