Oleh: bloggerlumajang | Juni 4, 2009

Kerajinan perak Lumajang, primadona di pulau dewata – sukses merambah mancanegara

Kerajinan perak tanah jawa tidak selamanya identik dengan kotagede dan kasongan, di sebuah tempat di lereng semeru tepatnya di kecamatan tempeh terdapat sentra kerajinan perak yang dijalankan oleh rumah tangga industri (home industri) yang berpusat di Desa Pulo dan tersebar di beberapa desa disekitarnya seperti Gesang, Besuk, Jokarto dan Tumpeng. Meski belum seterkenal kotagede namun harus diakui betapa karya para pengrajin perak asal “Pulo” telah mendunia dan diminati oleh kolektor kerajinan perak mancanegara.

Budaya Logam Tanah Jawa

Budaya logam tanah jawa pada kenyataannya merupakan bukti paling faktual dari tingginya peradaban peninggalan kerajaan-kerajaan besar yang pernah berjaya dan berdaulat di tanah jawa. Kerajinan logam baik emas, perak, perunggu, tembaga dan kuningan pada mulanya banyak dikembangkan untuk membuat persenjataan, perkakas rumah tangga, cinderamata dan perhiasan. Pada perkembangannya motif dan corak kerajinan logam tanah jawa juga mendapat pengaruh dari peradaban lain seperti india, cina, timur tengah dan eropa.

Tercatat dalam rentang tahun 1405-1433 Bahariwan muslim asal negeri tiongkok laksamana Muhammad Cheng Ho mengadakan muhibah perdamaian dan menjalin hubungan perniagaan dengan kerajaan – kerajaan di nusantara, cheng ho tak ketinggalan memberikan cinderamata berupa guci, kain sutera hingga kerajian logam khas negeri naga. Dalam ekspedisinya yang tercatat terbesar sepanjang sejarah pelayaran dunia, armada cheng ho juga menyertakan beberapa tenaga profesional yang memiliki kompetensi tinggi dibidangnya seperti ahli pengobatan, ahli persenjataan, ahli pertukangan, ahli kerajinan, dsb yang membagikan ilmu kepada penduduk pribumi yang disinggahinya.

Motif Perak Tulang Naga “Dragon Bone”, Motif Khas Lumajang yang mendunia

Kerajinan perak “Lumajang” dipercaya memiliki ke-khasan corak dan motif yang membuatnya berbeda dari hasil karya para pengrajin perak kotagede maupun pengrajin perak pulau dewata. Motif Tulang naga atau oleh orang barat disebut Dragon Bone sudah lama dikenal dan diakui sebagai karya khas pengrajin perak Lumajang, konon motif ini diilhami dari gelang perak yang dipakai oleh Maha Patih Gajah Mada saat menggelorakan sumpah amukti palapa.

Berkat motif khas inilah para pengrajin perak Lumajang yang sebagian menekuni profesi sebagai pekerja art shop di sentra kerajinan perak celuk, gianyar Bali cukup diperhitungkan dikalangan pengrajin perak pulau dewata. Sayangnya Pengrajin perak lumajang belum memiliki pangsa pasar sendiri, order yang mereka kerjakan umumnya berasal dari investor kerajinan yang memiliki akses pasar di pulau dewata dan link pasar properti mancanegara. Sebagian pengrajin perak asal pulo dan sekitarnya memilih menjadi pekerja art shop di pulau bali, sebagian besar karya mereka dipasarkan di outlet-outlet khusus kerajinan perak di celuk maupun di pasar kerajinan sukowati.

Menggagas Wisata Alternatif berbasis kerajinan

Diakui atau tidak Home industri perak di Pulo dan sekitarnya selama ini mengalami dilema klasik yakni kurangnya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah dalam menjembatani akses modal dan pasar.

Pariwisata di Lumajang dengan prospeknya yang cerah sesungguhnya bisa membuka peluang untuk mempromosikan kerajinan perak sekaligus menggagas sebuah paket wisata alternatif berbasis kerajinan sebagaimana yogyakarta yang sukses mengemas pusat kerajinan rakyat “kasongan” sebagai tujuan wisata alternatif.

Beberapa waktu yang lalu motif perak khas lumajang “tulang naga” dan ratusan motif perak khas nusantara lainnya telah dibajak dan dipatenkan oleh pengusaha asing, sehingga sekaranglah saat yang tepat bagi pemerintah untuk berbuat secara nyata dan pro aktif dalam menjaga dan mendorong agar home industri kerajinan perak di Pulo dan sekitarnya bisa tumbuh dan berkembang menjadi salah satu icon lumajang yang membanggakan.

Kerajinan Perak Lumajang, sampai kapankah mampu bertahan ?

Pulo memang menjadi sebuah desa yang istimewa, roda perokomomiannya berkembang cukup pesat, rumah-rumah gedong yang sebagian diantaranya mewah (magrong-magrong) memberikan kesan betapa home industri kerajinan emas dan perak tidak sekedar bisa menghidupi melainkan juga menjadikan Pulo kini sebagai “desa yang berwajah kota”.

Karya kerajinan perak pulo dan sekitarnya memang cukup lama bertahan menjadi primadona di pulau dewata dan bahkan sukses menembus pasar mancanegara.

Melihat dari dekat home industri kerajinan perak di pulo dan sekitarnya pada hari ini kita akan merasa prihatin. Beberapa tahun belakangan ini pengrajin perak mengalami masa-masa kritis lantaran terkena dampak langsung krisis ekonomi global, para investor kerajinan asal mancanegara sebagian justru beralih mempekerjakan pengrajin perak asal thailand lantaran kualitas yang tidak jauh berbeda dengan upah kerja yang jauh lebih murah.

Walhasil sebagian pengrajin-pengrajin perak berpengalaman harus rela menghadapi kenyataan ini, sebagian diantaranya beralih menjadi petani , pedagang, peternak atau apapun agar tetap bisa bertahan mengikuti putaran kehidupan.

Lantas dengan kondisi semacam ini, sampai kapankah kerajinan perak lumajang akan mampu bertahan ?!?!…Wallahu A’lam


Responses

  1. Sulit untuk dibayangkan ketika stabilitas ekonomi di negeri ini tidak aman apalagi dengan di iringi oleh stabilitas politik dalam negeri…..!! Saya juga mengalami hal yang seperti itu pada ayah saya dulu di Pulo… Dia mantan Kades Pulo 2004-2009…. Hanya lah bergantung pada pemerintah setempat itu sendiri, apakah mampu membendung dilema ini…!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: