Oleh: bloggerlumajang | Agustus 11, 2009

Bom dan Reportase TV Indonesia

Menyimak perburuan aparat atas berbagai aktor dan orang yang amat diduga sebagai anggota jaringan terorisme di Indonesia akhir-akhir ini semakin menarik. Metode dan gerakan polisi (detasemen 88) yang di blow up secara intens dan besar-besaran oleh media massa Indonesia, telah menjadi tontonan yang sangat menarik untuk diikuti.  bom

Sepak terjang teror dan akibat yang ditimbulkan teroris seakan kurang diingat lagi oleh penonton. Mereka cenderung sudah dapat menikmati alur perburuan dan penggerebegan yang dilakukan detasemen 88 ini. Penonton seakan telah mampu melihat acara LIVE yang sebetulnya bernuansa sadisme ini dengan menikmatinya seakan sedang menonton gosip selebritis infotainment.

Media massa di Indonesia, khususnya televisi sepertinya memang telah mampu mensejajarkan diri dengan pola-pola pertelevisian Amerika. Mereka amat agresif dan aktif menjemput simpul-simpul informasi. Mereka mulai pintar memainkan sumber data serta meramunya untuk mencengkeram emosi penonton. Berbagai trik dan teknik mereka terbukti – selama ini – telah mampu menjadi rujukan penonton sebagai sumber berita. Muara akhir agaknya telah berhasil didapatkan yaitu kenaikan rating.

Namun sebagaimana saya singgung di posting terdahulu ……. Kemampuan Jurnalisme investigatif mereka masih kedodoran. Menjadi menarik kemudian untuk dilontarkan pertanyaan, apakah tingkat keberhasilan mereka dalam menggiring opini dan menaikkan rating karena kualitas reportase – atau terkait dengan tingkat kualitas penonton di Indonesia. Karena saya percaya pasar di Indonesia tidak se kritis pasar di Amerika misalnya.

Apabila diibaratkan, rangkaian acara live penggerebegan teroris (baca Noordin M Top) dan serangkaian assesoriesnya (baik yang dikemas dalam bentuk laporan utama, breaking news, dan yang lainnya) sebetulnya telah amat manis terangkai. Namun ending dan titik kulminasinya sangat tidak menarik. Ending ini menurut saya amat prinsip. Ending ini sudah dibangun sejak awal cerita dan diharapkan mencapai klimaks di akhir cerita, dan itu belum atau tidak akan terjadi.

Klimaks itu bernama Noordin M Top. Kita dapat melihat dan menyaksikan seluruh media massa khususnya televisi telah meyakini alur dan jalan cerita bahwa yang terpojok di Temanggung itu sang destroyer. Seluruh rangkaian reportase baik verbal – non verbal, terucap, teks dan line teks, seluruhnya tidak menyisakan ruang alternatif lain. Mereka amat meyakini kasak kusuk dan suasana psikologis di lapangan.

Sebetulnya mereka sudah mencoba berburu sumber berita. Sebelum penggerebekan itu selesaipun, sebetulnya ada seorang sumber berita yang diwawancarai TV One yang meragukan bahwa target utama sebetulnya belum finished, dengan berbagai argumen yang sebetulnya menurut saya amat masuk akal. Namun suasana di lapangan serta alur cerita yang sudah terbangun tidak memungkinkan untuk mengakomodasi argumen ini, maka skenario tetap satu kata – gembong terorisme itu telah tamat.

Setelah sekian jam dan sekian hari, klimaks dan ending itu bernama Uji DNA. Dan konfirmasi itu sampai saat ini belum didapatkan. Dan agaknya, media cetak serta televisi mulai mencari teknik berkelit yang cukup elegan (mereke akan sangat mampu untuk itu). Namun persoalan sebetulnya bukan itu, mereka sebetulnya telah menciderai kredibilitas mereka di mata pemirsa.

Sesuatu dapat dipetik dari kebun perburuan berita ini, bahwa rating itu penting namun bukan segalanya, dan jurnalisme juga harus berbicara data base. Kalau di dunia public health dikenal surveillance epidemiologi, sudah saatnya jurnalisme juga menerapkan surveillance jurnalism, sehingga mereka tidak lagi pasrah bongkoan pada sumber berita. Mereka setidaknya harus sudah mempunyai data base, asumsi, dan hipotesa yang valid, tidak sekedar kejar tayang …..


Responses

  1. Kadang pemberitaan yang diblow up besar-besaran oleh media terlalu mendramatisir dan jauh dari fakta yg sesungguhnya, anehnya kadang setelah semuanya jelas justru menjadi bias dan justru membingungkan dan sekali lagi masyarakat dijadikan obyek sementara industri media justru mendapatkan rating dan oplah dan keuntungan dari kebingungan masyarakat ini sungguh ironis!

    Semoga kita bisa mencerna setiap informasi di media secara obyektif dan berimbang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: