Oleh: bloggerlumajang | Agustus 15, 2009

Melihat Kiprah YPKGM, Wakil Lumajang dalam Poverty Award 2009 (Reportase Radar Jember)

Mengatasi kemiskinan bukan menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran lembaga non government punya andil besar dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut. Seperti yang dilakukan Yayasan Pengembangan Kreativitas Generasi Muda (YPKGM). Lembaga tersebut dipercaya mewakili Lumajang dalam ajang Poverty Award 2009. Kondisi rumah yang berada di Jalan Arjuna Nomor 35F itu tidak terlalu besar. Di halaman rumah bercat putih tersebut, ada padepokan kecil yang dibangun dari penyangga kayu dan asbes pengganti ilalang sebagai atapnya. Terlihat sejuk dan asri.

Sekitar rumah banyak ditumbuhi berbagai macam bunga. Di rumah itulah, para aktivis YPGM mengolah dan mengembangkan kreativitasnya. Para aktivis YPGM menyebut rumah tersebut sebagai rumah kreatif.
Maklum, selain menelurkan ide-ide segar untuk memberikan pendampingan terhadap program pengentasan kemiskinan, di rumah tersebut juga tersedia perpustakaan dan fasilitas internet yang kesemuanya gratis.
Rak-rak buku mengitari sisi bagian selatan dan sisi barat di ruangan depan rumah kreatif tersebut. “Koleksi perpustakaan memang lebih banyak menyediakan buku-buku tentang pertanian,” ujar Hendro Iswahyudi, ketua YPKGM. Namun, bukan berarti buku bacaan umum dan anak-anak tidak tersedia. Untuk menunjang kegiatan, dua unit komputer dengan akses internet juga tersedia.

Di rumah tersebut ada ruangan untuk tempat produksi produk-produk pertanian, seperti kopi organik semeru dan keripik jahe watu kloset. Dua produk tersebut salah satu produk yang dimunculkan oleh YPGM dan telah dipasarkan hingga luar kota seperti Jogjakarta dan Bali.
Hendro Iswahyudi mengatakan, YPKGM sudah memulai kiprahnya sejak dua dekade lalu. Dari awal, YPKGM berkiprah dalam pemberdayaan masyarakat petani di kawasan lereng Semeru melalui Program Pertanian Berkelanjutan (PB).

Awalnya, kata Hendro, YPKGM fokus dalam mengelola dan mengembangkan komoditas kopi dan pisang dalam mendukung kemandirian wirausaha tani. Kelompoknya memfasilitasi Paguyuban Petani Pusung Kejen (P3K) dalam program sertifikasi kopi organik bekerja sama dengan LeSOS-Bio Inspecta hingga meraih sertifikat. “Kami bersyukur dua hal tersebut terpenuhi,” ujarnya bangga.
Selanjutnya, YPKGM tidak pernah berhenti melangkah untuk mendampingi petani agar bisa mandiri dan sejahtera secara bersama-sama. Hingga sekarang, YPKGM mempunyai 50 kelompok tani binaan. “Hanya, yang aktif 36 kelompok,” jelasnya.

Dia mengakui, kelompok-kelompok tani yang mendapatkan pendampingan dari YPKGM terbanyak adalah para petani di lereng Semeru. Pihaknya, kata Hendro, tidak hanya melakukan pendampingan yang sifatnya pasif, namun memberikan pelatihan pra dan pasca produksi, hingga membuka pasar produk-produk pertanian petani binaannya..
Dari kelompok-kelompok tersebut, mereka terus berusaha untuk mengubah perilaku para petani dari buruh tani menjadi seorang entrepreneurship alias wirausaha. Alasannya, jika petani hanya menjadi buruh tani, kesejahteraan mereka akan sulit tercapai.

Untuk mengubah perilaku tersebut, lanjut Hendro, dibutuhkan waktu lama dan pendampingan secara terus-menerus. “Masyarakat petani akan sulit mengubah perilakunya jika kita tidak memberikan contoh terlebih dahulu. Baru setelah kita memberikan bukti, mereka mau ikut,” paparnya.
Konsistensi, dari kaca mata Hendro, menjadi kunci eksistensi aktivitas YPKGM. Hingga akhirnya, kelompoknya mendapatkan pengakuan dari kelompok-kelompok tani lainnya. Bahkan, kemarin, empat kelompok tani dari Kabupaten Flores dan Kabupaten Timur Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur belajar ke rumah kreatif YPKGM.


Mereka belajar tentang teknik processing, packing dan pemasaran produk pertanian. Maria Beribe, salah satu kelompok petani yang bertandang ke YPKGM mengatakan, pihaknya sangat tertarik belajar ke YPKGM karena mereka mampu mengemas produk pertanian dengan baik.
“Mereka mendorong petani untuk mandiri. Kebetulan, kami baru bareng-bareng menggelar produk kami di Bondowoso (10-12 Agustus 2009),” ujarnya. Sepulang dari Bondowoso tersebut, sekitar 20 orang dari empat kelompok tani dari NTT mampir dulu di YPKGM.


Tak hanya menjadi tempat belajar bagi kelompok tani luar daerah, YPGKM juga menjadi satu-satunya lembaga non government yang dipercaya pemerintah untuk mewakili Lumajang dalam ajang Poverty Award 2009 yang diselenggarakan Pemprov Jatim. Ajang penghargaan bagi lembaga pengentasan kemiskinan, menurut rencana, akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: